Laskar Pelangi : Harapan itu Masih Ada!

”Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia….” Nidji





Laskar pelangi memang hanya sebuah cerita yang dituliskan di novel dan dihidupkan dalam film. Namun cerita yang bersumber dari kisah nyata ini merupakan sebuah kisah yang menarik, menyentuh, dan menggerakan (menginspirasi). Dan yang jelas, cerita ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Majalah Madina (edisi Oktober 2008) menggambarkannya sebagai film yang ‘indonesiawi’. Maka tak aneh jika novelnya meledak menjadi novel terlaris di nusantara dan filmnya pun menjadi box office dengan ditonton lebih dari 4 juta pasang mata.

Cerita ini memang penuh dengan pesan. Pesan pertama sang penulis Andrea Hirata tentu untuk pemerintah negeri ini yang seperti tidak serius mengurus negara, dengan membiarkan sekolah bobrok tanpa diperhatikan apalagi diperbaiki. Hirata sang alumni sekolah bobrok fisik tersebut seakan menjadi juru bicara agar pemerintah lebih melek. Karena kenyataannya ada ribuan sekolah bobrok seperti itu di penjuru negeri ini.

Pesan untuk Guru

Pesan kedua, tentu untuk guru-guru negeri ini. Pertama agar mau menjadi guru yang sebenarnya. Guru yang mengajar dengan hatinya, guru yang mengajar murid sepanjang hidupnya bukan sepanjang jam sekolah semata. Guru yang mengetahui kelemahan dan kelebihannya muridnya. Sehingga sang guru tidak asal melarang atau tidak mudah putus asa melihat kondisi nyata.

Bu Muslimah yang rela terus mengajar di sekolahnya walaupun ada kesempatan pindah ke sekolah lain yang lebih baik mengajarkan kita arti loyalitas (kesetiaan) yang hari ini sangat mahal harganya. Bu Muslimah mengajarkan kepada kita bahwa hidup bukan masalah uang semata. Jika gaji tak bisa terbayarkan, bukan berarti kiamat. Kita bisa dengan cerdik mencari peluang lain untuk menutupi kebutuhan kita, dengan menjahit misalnya.

Bu Muslimah juga mengingatkan kita untuk memperlakukan murid betul-betul sebagai manusia buakan sebagai robot atau benda semata. Seorang guru harus memunculkan nyang terbaik dari murid-muridnya bagaimana pun kondisinya. Guru yang tak patah arang ketika sekolah tidak menyediakan fasilitas terbaiknya. Guru yang mengelus lembut kepala anak didiknya ketika masalah mendera. Guru yang menggugah muridnya ketika semangat sedang susut. Guru yang betul-betul mengajar, bukan mencari uang.

Pesan untuk Pelajar

Pesan ketiga, adalah pesan Hirata untuk jutaan penuntut ilmu negeri ini untuk memiliki mimpi. Tak sekedar karena mimpi itu gratis. Tapi mimpilah yang akan membuat hidup menjadi betul-betul hidup. Kekuatan mimpilah yang mengantarkan Lintang tak pernah menyerah dengan kondisi wilayah yang tidak bersahabat, walau buaya sekalipun menghadang. Mimpi pula yang mengantarkan Hirata sendiri, sukses lulus dari sekolah tersebut dan terbang dengan mimpinya sampai keliling dunia dan akhirnya menulis Laskar Pelangi.

Hirata juga ingin berpesan kepada para pelajar untuk memanfaatkan semua kecerdasan yang mereka miliki. Jika tak bisa jadi jenius ala Lintang, mungin bisa jenius ala Mahar dengan kecerdasan kinestetik dan musikalnya. Atau bisa juga dengan kecerdasan relijius ala Sahara yang berani menolak pergi ke dukun, bahkan ia mampu mempengaruhi beberapa teman yang lain. Atau tentu saja jenius ala Ikal, yang mampu mengolah mimpinya.

Dan pesan lainnya dialamatkan Hirata untuk para pengelola sekolah agar tidak mudah mengeluh dan berpangku tangan ketika tiada fasilitas yang mendukung. Laskar Pelangi mengajarkan bahwa laboratorium termahal tak perlu dibeli dengan uang. Tapi alam nyata adalah laboratorium sesungguhnya. Saksikanlah Mahar yang dengan kr4reatif mementaskan tari ala Papua yang sederhana dan hemat untuk meraih kemenangan. Kelas yang buruk bukan masalah jika semangat mengajar masih terus dimiliki pengelola dan guru sekolah. Kelas yang tak memadai bukan halangan jika semangat para murid masih bisa dibakar.

Suasana Laskar Pelangi dengan background panorama Indonesia yang teramat indah memang layak membuat kita optimis. Bahwa dibalik ancaman robohnya sekolah-sekolah dipenjuru negeri ini, masih banyak alasan kita untuk bangkit : mimpi, pantang menyerah dan selalu bersyukur.


0 komentar: